SELAMAT DATANG DI KOTA SOLO

BERSIH KOTANYA SANTUN MASYARAKATNYA

Kerbau ' Kyai Slamet '

Kamis, 24 Maret 2011

Seorang teman bertanya kepada saya perihal kerbau albino yang dia lihat di Alun-alun Selatan Keraton Surakarta, tentang asal-usulnya dan maknanya bagi warga Solo khususnya bagi Keraton. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan itu sejauh yang saya dengar, baik dari masyarakat maupun dari pihak kraton. Kurang lebih asal usul sang kerbau adalah sebagai berikut.
Tak berbeda waktunya dari cerita sebelumnya yaitu pada masa Pemerintahan Pakoe Boewono II, jaman Keraton Kartasura di sekitar abad ke 17, diceritakan bahwa di kerajaan terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi yang membuat ‘sinuwun’ harus melarikan diri ke Ponorogo. Di Ponorogo beliau ditampung oleh Bupati Ponorogo dan berdiam di sana untuk beberapa saat hingga pemberontakan berakhir.
Pada masa pelariannya di Ponorogo, Sang Raja Kartasura itu memperoleh petunjuk gaib bahwa pusaka Kyai Slamet harus ‘direkso’ atau dijaga oleh sepasang ‘kebo bule’ atau kerbau albino jika ingin kerajaan aman sentausa dan langgeng. Kuasa Tuhan yang luar biasa pada saat itu, seolah gayung bersambut, Sang Bupati Ponorogo tiba-tiba ingin menunjukkan bhaktinya kepada rajanya dengan mempersembahkan sepasang ‘kebo bule’ kepada sinuwun, tepat disaat beliau membutuhkannya.
Kebo bule atau kerbau albino pada masa itu (mungkin juga pada masa sekarang) adalah kerbau yang sangat jarang ditemui dan dimiliki orang kebanyakan dan merupakan hewan piaraan bernilai tinggi. Maka sinuwun Paku Boewono II menerima dengan baik ‘pisungsung’ (persembahan) sang bupati dan berterimakasih atas persembahan yang sangat sesuai dengan kebutuhannya. Sinuwun membawa sepasang kerbau bule itu kembali ke Kraton Kartasura setelah pemberontakan usai dan hingga kerajaan berpindah tempat ke Desa Sala dan berganti nama menjadi Kraton Surakarta Hadiningrat.

Secara turun temurun kerbau bule terus bertindak sebagai penjaga pusaka Kyai Slamet hingga masyarakat luas menyebut kerbau itu sebagai Kerbau Kyai Slamet. Menurut penuturan KRT Kalinggo Honggopuro, humas Kraton Surakarta, sebetulnya Kyai Slamet bukanlah nama kerbau. Kerbau Kyai Slamet berarti kerbau yang menjaga Kyai Slamet, sedangkan Kyai Slamet itu sendiri adalah sebuah pusaka yang tak kasat mata yang hanya Sang Raja yang tahu dan bagi rakyat kebanyakan pusaka Kyai Slamet adalah tetap misteri sehingga lebih mudah bagi mereka untuk menyebut sang kerbau saja sebagai Kyai Slamet. Hingga kini kerbau Kyai Slamet telah beranak pinak dan tetap dihormati dan disebut sebagai kerbau bule Kyai Slamet.
Setiap peringatan 1 Suro (Tahun Baru Hijriah 1 Muharam), Kraton selalu menyelenggarakan acara Kirab Pusaka Kraton dimana beberapa pusaka kraton di’kirab’ atau diarak keliling keraton dengan maksud sebagai penolak bala agar kraton dan rakyat jauh dari mara bahaya dan selalu diberi keselamatan. Kerbau Kyai Slamet memegang peranan penting di setiap kirab pusaka, karena sang kerbau yang kini berjumlah sekitar 7 ekor menjadi ‘cucuk lampah’ atau pembuka jalan bagi iring-iringan kirab. Bahkan konon, di masa lalu kerbau Kyai Slamet adalah sang penentu waktu, kapan waktu yang tepat Kirab Pusaka ini mulai berjalan.
Banyak cerita seputar kerbau albino Kyai Slamet ini. Banyak saksi mata yang bilang bahwa sang kerbau suka sekali berkelana ke mana-mana, maksudnya tidak hanya di Solo tapi banyak yang bilang kalau sang kerbau yang diyakini sakti ini terlihat di berbagai tempat di Jawa Tengah seperti di Demak, Kudus dan berbagai tempat lainnya. Tidak ada yang berani menghalau sang kerbau karena mereka merasa senang ‘dikunjungi’ makhluk bertuah itu. Menariknya, setiap kali menjelang 1 Suro, sang kerbau selalu kembali ke Alun-alun Selatan Kraton, tempat dia biasa merumput. Di saat kirab pun sang kerbau tak pernah lepas dari fenomena menarik. Yang pertama adalah kesukaan sang kyai untuk minum kopi dan makan telur mentah sebelum kirab dimulai. Jika di perjalanan kirab Kyai Slamet membuang kotoran (maaf), banyak penonton akan langsung berebut kotorannya dan menyimpannya. Untuk apa? Masyarakat desa di sekitar Solo masih sangat percaya bahwa kotoran Sang Kyai bisa menyuburkan tanah pertaniannya dan menjauhkannya dari kegagalan panen.

0 komentar:

Poskan Komentar

Sugeng Rawuh

Sugeng Rawuh

Label Cloud

Statistik

awoencahsolo. Diberdayakan oleh Blogger.