SELAMAT DATANG DI KOTA SOLO

BERSIH KOTANYA SANTUN MASYARAKATNYA

Mengintip Geliat Industri Batik di Kampung Batik Kauman Solo

Sabtu, 26 Maret 2011

Orang bilang  kalau berkunjung ke Kota Solo belum lengkap rasanya kalau belum mampir ke kawasan ini..ya..kawasan ini bernama Kampung Batik Kauman. Setelah beberapa waktu yang lalu saya bisa merasakan atsmofir aktivitas di Kampung Batik Laweyan, nah saat ini saya ingin membahas sedikit tentang kampung yang satu ini. Kebetulan ada keluarga dari Banda Aceh yang ingin membeli beberapa potong batik Solo. Sekalian jadi guide sekalian pula saya ingin mengintip geliat aktivitas perbatikkan di kampung ini.
Kami pun melangkah memasuki kawasan Kampung Kauman melewati gapura yang berada di samping gedung salah satu bank swasta di Indonesia. Dilihat dari bentuk bangunannya kawasan ini masih kental dengan aroma keratonnya.Banyak bangunan kuno yang masih tetap terjaga keutuhannya.
Menurut sumber yang saya temui Kauman dulu merupakan tempat ulama yang terdiri dari beberapa lapisan masyarakat mulai dari penghulu tafsir anom, ketip, modin, suronoto dan kaum. Keberadaan kaum sebagai penduduk mayoritas di kawasan inilah yang menjadi dasar pemilihan nama "kauman".
Masyarakat kaum (abdi dalem) mendapatkan latihan secara khusus dari kasunanan untuk mebuat batik baik berupa jarik/selendang dan sebagainya. Dengan kata lain, tradisi batik kauman mewarisi secara langsung inspirasi membatik dari Ndalem Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Berdasarkan bekal keahlian yang diberikan tersebut masyarakat Kauman dapat menghasilkan karya batik yang langsung berhubungan dengan motif-motif batik yang sering dipakai oleh keluarga kraton.
Dalam perkembangannya, seni batik yang ada di kampung kauman dapat dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu batik klasik motif pakem (batik tulis), batik murni cap dan model kombinasi antara tulis dan cap.
Sedangkan batik klasik motif pakem (batik tulis) merupakan motif unggulan Kampung Wisata Batik Kauman Solo karena merupakan motif yang selalu dipakai oleh para keluarga Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang mana keahlian membatik di kampung kauman merupakan keahlian diturunkan dari keluarga kasunanan sendiri kepada masyarakat Kauman.Produk-produk batik kampung kauman dibuat menggunakan bahan sutra alam dan sutra tenun, katun jenis premisima dan prima, rayon.
Kampung yang memiliki 20-30an home industri ini menjadi langganan dari para pembeli yang sudah terjalin secara turun temurun dan wisatawan mancanegara (Jepang, Eropa, Asia Tenggara dan Amerika Serikat). Keunikan yang ditawarkan kepada para wisatawan adalah kemudahan transaksi sambil melihat-lihat rumah produksi tempat berlangsungnya kegiatan membatik. Artinya, pengunjung memiliki kesempatan luas untuk mengetahui secara langsung proses pembuatan batik. Bahkan untuk mencoba sendiri mempraktekkan kegiatan membatik.
Disamping produk batik, kampung batik Kauman juga dilingkupi suasana situs-situs bangunan bersejarah berupa bangunan rumah joglo, limasan, kolonial dan perpaduan arsitektur Jawa dan Kolonial. Bangunan-bangunan tempo dulu yang tetap kokoh menjulang ditengah arsitektur modern pusat perbelanjaan, lembaga keuangan (perbankan dan valas), homestay dan hotel yang banyak terdapat disekitar kampung kauman. Fasilitas-fasilitas pendukung yang ada di sekitar kampung Kauman ini jelas menyediakan kemudahan-kemudahan khusus bagi segenap wisatawan yang berkunjung dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan lain di luar batik.
Ada lagi yang menarik disini, yaitu adanya Museum Batik yang katanya di museum ini tersimpan ratusan lembar kain batik berusia di atas 35 tahun  yang dipamerkan di sejumlah sudut rumah kayu khas Jawa, yang juga sudah uzur.Berbagai peralatan membatik yang usianya tak kalah tua juga ada di rumah itu. Untuk menggambarkan kejayaan industri batik tempo dulu dipajang pula ratusan cap yang menandai produsen batik masa itu. Tak lupa kamipun mampir untuk melihat-lihat isi dari museum ini.
Museum ini terletak di sebuah sudut Kampung Kauman yang menjadi satu sentra batik di Kota Solo. Keberadaannya terasa tepat di tengah perkampungan yang sejak dulu hidup dari industri batik khas Solo.
Bunga matahari, puspita, sedep malem, anggur, dan pisang bali, adalah sebagian dari cap batik yang dipajang di dinding kayu saat menapak di beranda rumah yang dijadikan museum itu, pekan lalu. Cap batik pernah mewarnai industri batik puluhan tahun lalu.

Memasuki ruang utama, nuansa Jawa tempo dulu sungguh terasa. Lemari kayu berukir yang terlihat klasik menempati beberapa sudut ruang. Lembaran kain batik dalam berbagai motif ditaruh di dalamnya. Kain kuno juga dipamerkan di meja, kayu panjang, dan kayu terikat tali yang digantung di atap. Semuanya diberi label untuk menerangkan setiap motif kain batik itu.
"Museum ini lebih dimaksudkan nguri-uri budaya, yaitu batik Solo. Di sini masyarakat dapat melihat dan mempelajari sejarah batik Kauman khususnya, dan batik Solo serta turunannya," kata pengelola Museum Batik Kaoeman Gunawan Setiawan
Untuk tujuan pembelajaran itu, koleksi museum juga dilengkapi peralatan yang digunakan untuk membatik. Alat pres batik dari besi yang digunakan tahun 1940-an ada juga di sana. Ini dipakai untuk merapikan batik yang akan dikemas dalam jumlah banyak. Tak kalah unik adalah alat giling batik dari besi masa 1920-an. Sejumlah alat stempel kuno pun dipamerkan.
Alat produksi batik lainnya dapat ditemukan di lantai II bangunan di sebelahnya. Berbagai stempel motif untuk membuat batik cap ada di ruangan itu. Alat pres besar dari masa lalu, tetapi kali ini terbuat dari kayu, berdiri kokoh di dekat dinding.
Di tengah acara berkeliling kampung melihat proses produksi dan berburu batik, kunjungan ke museum ini akan memperkaya wawasan tentang sejarah batik di Solo, terutama batik Kauman. Apalagi, koleksi di museum ini merupakan milik warga Kampung Kauman yang sejak dahulu membuat batik.
Puas melihat-lihat akhirnya kami memutuskan untuk istirahat sejenak. Perjalanan kami lanjutkan dengan berbelanja di toko-toko penjual batik yang tersebar di kawasan ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Sugeng Rawuh

Sugeng Rawuh

Label Cloud




Statistik


awoencahsolo. Diberdayakan oleh Blogger.