SELAMAT DATANG DI KOTA SOLO

BERSIH KOTANYA SANTUN MASYARAKATNYA

Telaga Mardido, Anugerah Alam Yang Perlu Mendapat Sentuhan

Minggu, 27 Maret 2011

Saat ini, wilayah yang digenangi air di Tlogo Madirdo mencakup kurang lebih seribu meter persegi atau 30% dari luas cekungan. Kedalaman air kurang lebih 1 meter. Selain untuk keperluan mandi, air telaga juga dimanfaatkan penduduk untuk budidaya ikan, dan irigasi. Kondisi air sendiri cukup jernih dan memiliki volume air yang relatif konstan baik pada saat musim kemarau maupun pada saat musim penghujan.
Perbukitan di sekitar Telogo Madirdo memiliki potensi sumber air yang mengucurkan air secara terus-menerus dan tak pernah kering. Di sana terdapat keindahan lain seperti batu-batuan alam, flora fauna khas pegunungan dan pemandangan yang bagus ke berbagai arah.Jenis tanaman yang berada di perbukitan sekitar Tlogo Madirdo antara lain pohon bambu, pinus, akasia, mangga, pisang, pakis dan berbagai jenis tanaman perdu, semak dan rumput. Untuk wilayah sekitar tapak, selain jenis tanaman tersebut juga terdapat jenis tanaman tahunan seperti cengkeh, kopi, tanaman pertanian dan berbagai tanaman sayuran.

Belum memadai
Potensi keindahan Tlogo Madirdo belum banyak diolah. Selama ini pengelolaan telaga hanya dilakukan warga Dusun Tlogo, Desa Berjo Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar. Pengelolaan juga sebatas pembersihan, perawatan, dan bahkan tanpa penarikan retribusi sama sekali.
Potensi telaga dengan air cukup bersih, udara yang sejuk dan teduh, berbagai batu alam yang indah, serta keanekaragaman flora dan fauna pegunungan yang menarik, ternyata belum dibarengi dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai. Berbagai fasilitas yang ada saat ini semuanya murni swadaya masyarakat setempat dan terlihat masih relatif sederhana. Berbagai fasilitas seperti pancuran untuk mandi, tempat parker, kamar mandi dan WC umum, homestay serta pengerasan permukaan jalan, semuanya masih terkesan seadanya.
Pengembangan
Kepala Desa Berjo, Dwi Haryanto, mengatakan dari sisi ketersediaan lahan ketersediaan sumber daya air, sebenarnya pengembangan Tlogo Madirdo sangat memungkinkan. Sebab, dengan menaikkan elevasi air telaga hingga mencapai kedalaman tertentu yang lebih tinggi dari kondisi saat ini, akan memperindah kondisi telaga. Lagi pula, dengan menaikkan ketinggian air, diharapkan tidak akan menganggu pemanfaatan air bagi warga. Air yang melimpah bisa dimanfaatkan warga untuk irigasi dan keperluan lainnya.
Dari sisi status tanah, tanah di sekitar Tlogo Madirdo merupakan tanah kas desa dengan luas mencapai 4 hektare. Artinya, untuk pengembangan obyek wisata tidak perlu lagi dilakukan pembebesan lahan. Bahkan warga masyarakat setempat mengaku siap untuk menghibahkan tanahnya secara sukarela guna mewujudkan pengembangan kawasan Tlogo Mardido tersebut.
Pengembangan Tlogo Madirdo, selain akan mengangkat potensi wisata di Kabupaten Karanganyar juga diyakini akan mampu meningkatkan taraf hidup dan pendapatan eknomi warga setempat maupun masyarakat dalam lingkup yang lebih luas. Peningkatan ini dimungkinkan karena terbukanya berbagai kesempatan warga untuk melakukan usaha seperti jasa warung, penginapan, pertanian, parkir dan kesempatan yang lainnya. Demikianlah adanya, warga di sekitar telaga memang sangat mendukung rencana pengembangan Obyek Wisata Tlogo Madirdo ini.
Meski demikian, Dwi Haryanto mengingatkan, sebelum melakukan pengembangan telaga, beberapa persoalan perlu difikirkan terlebih dulu jalan keluarnya. Pertama, adanya kekawatiran sejumlah warga yang tinggal di hilir sumber mata air Tlogo Mardido yaitu warga masyarakat yang tinggal di Desa Girilayu Ngargoyoso dan Tengklik Tawangmangu. Selama ini air di telaga memang dimanfaatkan untuk keperluan air minum sekitar 500 kepala keluarga yang berada di desa tersebut. Dengan demikian jika akan diolah menjadi telaga wisata, maka diperlukan teknologi yang bisa menjaga kebersihan air untuk warga.
Kedua adalah persoalan infrastruktur jalan yang menghubungkan traffic Sukuh- Madirdo dan Grojogan Sewu. Kondisinya saat ini masih cukup memprihatinkan sebab jalan tembus alternatif yang baru dibangun hanya selebar 3 meter serta tidak memiliki badan jalan. Untuk keperluan pelebaran jalan, menurut Dwi, tidak diperlukan anggaran besar mengingat sebagian besar tanah yang dilalui jalur tersebut merupakan tanah milik Perhutani yang jika dilakukan pelebaran tidak perlu dilakukan pembebasan lahan.
Investor
Pihak desa sendiri sebenarnya pernah menghitung untuk membangun telaga hingga layak memerlukan anggaran sekitar Rp 1,5 miliar. Biaya sebesar akan digunakan untuk pengembangan telaga dengan membuat bendungan penahan air dan pembuatan talud di sepanjang areal obyek wisata. Dana itu akan cukup dengan catatan untuk faslilitas lain seperti infrastruktur jalan, penyediaan sarana kios, los dan tempat rekreasi di anggarkan tersendiri.
Terkait gagasan ini, sebenarnya pihak desa sudah banyak mendapat tawaran dari sejumlah investor yang siap membantu untuk membangun Telogo Madirdo. Namun desa masih berharap pihak Pemkab yang akan membuat perencanaan yang lebih matang guna pengembangan zona wisata tersebut.
Terkait masalah itu, Kasubag Perencanaan dan Program Dinas Pariwisata Kabupaten Karanganyar, I. Sukarno mengatakan sebenarnya Pemkab sudah membuat perencanaan terkait pengembangan obyek wisata Telaga Madirdo ini. Yaitu dengan membuat feasibility studi yang dilakukan oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Karanganyar pada tahun 2006. Bedasarkan feasibility study itu, akan diperlukan anggaran sebesar Rp. 3 miliar yang diperuntukkan bagi membangun empat zoning. Pertama adalah zoning penerima. Dalam zoning ini yang akan dibangun adalah berbagai fasilitas penerimaan antara lain areal parkir, plasa, kios agro, souvenir dan kantor pengelola.
Kedua adalah aktivitas wisata. Obyek yang akan dibangun meliputi pembuatan bendungan penahan air, dermaga perahu, dermaga pancing, dan lain sebagainya. Ketiga adalah zona wisata darat yang pembangunanya meliputi pembangunan area permainan, jalan setapak, taman bunga, taman alam dan gardu pandang. Keempat adalah zoning pelengkap yang meliputi pembangunan food court, warung makan, kamar mandi, toilet dan lain sebagainya.
Pengembangan Tlogo Madirdo berdasarkan analisa finansial dan ekonomi, yang meliputi analisis Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) maupun analisis Benefit Cost Ratio (BC-Ratio), yang dilakukan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Karanganyar pada tahun 2006, menunjukkan hasil positif. Artinya pengembangan obyek wisata Tlogo Madirdo layak dilakukan.

0 komentar:

Posting Komentar

Sugeng Rawuh

Sugeng Rawuh

Label Cloud




Statistik


awoencahsolo. Diberdayakan oleh Blogger.